Connect with us

LEBAK

Alas Kaki Primadona Ekspor Nonmigas Banten

Published

on

Matadagangan alas kaki seperti sepatu dan sandal masih menjadi primadona ekspor nonmigas Provinsi Banten.

Bantenraya.id, Serang – Matadagangan alas kaki seperti sepatu dan sandal masih menjadi primadona ekspor nonmigas Provinsi Banten dari bulan ke bulan dengan nilai ekspor sebesar 100 juta dolar AS, sementara golongan barang lainnya di bawah 100 juta dolar AS.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Banten Agoes Soebeno di Serang, Kamis, mengatakan alas kaki menjadi andalan ekspor nonmigas Banten karena daerah itu memiliki banyak industri alas kaki yang produknya berorientasi ekspor.

Nilai ekspor nonmigas untuk sepuluh golongan barang pada Februari 2018 mencapai 605,05 juta dolar AS, sementara untuk golongan barang lainnya sebesar 287,57 juta dolar AS. Nilai ekspor nonmigas terbesar pada Februari 2018 berasal dari golongan barang alas kaki yaitu mencapai 194,93 juta dolar AS, disusul oleh plastik dan barang dari plastik serta bahan kimia organik dengan ekspor masing-masing sebesar 76,34 juta dolar AS dan 67,27 juta dolar AS. Tujuh dari sepuluh golongan barang ekspor nonmigas utama pada Februari 2018 mengalami penurunan kecuali timah, kertas/karton, serta berbagai makanan olahan yang meningkat masing-masing 20,62 juta dolar AS, 3,39 juta dolar AS, dan 9,28 juta dolar AS. Penurunan nilai ekspor tertinggi berasal dari golongan barang alas kaki disusul oleh bahan kimia organik dengan penurunan masing-masing sebesar 42,41 juta dolar AS dan 13,68 juta dolar AS. Sedangkan pada lima barang yang lain penurunan nilai ekspor masing-masing kurang dari 9,00 juta dolar AS dengan peningkatan terendah berasal dari golongan barang mesin-mesin/pesawat mekanik sebesar 0,35 juta dolar AS. Ekspor nonmigas sepuluh golongan barang utama untuk Januari – Februari 2018 memberikan kontribusi 66,43 persen terhadap total ekspor nonmigas. Nilai ekspor nonmigas untuk sepuluh golongan barang utama tersebut naik 5,23 persen atau sebesar 62,19 juta dolar AS dibanding ekspor nonmigas pada periode yang sama tahun lalu yang telah mencapai 1.189,76 juta dolar AS.

Tujuh dari sepuluh golongan barang ekspor nonmigas Januari – Februari 2018 mengalami peningkatan dibanding periode yang sama pada 2017. Peningkatan tertinggi berasal dari timah yang naik 57,62 juta dolar AS, dan terendah terjadi pada golongan berbagai makanan olahan sebesar 3,79 juta dolar AS. ila dibandingkan secara bersamaan untuk sepuluh golongan barang ekspor nonmigas utama pada Februari dan Januari 2018, maka akan didapati sembilan golongan barang yang sama, kecuali timah. Tujuh dari sembilan golongan barang tadi, kecuali kertas/karton dan tembaga merupakan golongan barang yang selalu masuk dalam sepuluh golongan barang utama ekspor nonmigas Banten selama satu tahun terakhir, dengan pangsa ekspor nonmigas gabungan tidak pernah kurang dari 54 persen.Soebeno menambahkan nilai ekspor Banten Februari 2018 turun 9,88 persen dibanding bulan sebelumnya dari 992,29 juta dolar AS menjadi 894,23 juta dolar AS.Penurunan ekspor tersebut terutama disebabkan oleh ekspor nonmigas yang mengalami penurunan 10,03 persen dari 992,11 juta dolar AS menjadi 892,62 juta dolar AS. Kebalikan ekspor migas naik 805,96 persen dibanding bulan sebelumnya, dari 0,18 juta dolar AS menjadi 1,61 juta dolar AS.

Sepuluh golongan barang utama ekspor nonmigas Banten pada Februari adalah alas kaki senilai 194,93 juta dolar AS, plastik dan barang dari plastik (76,34 juta dolar AS), bahan kimia organik (47,27 juta dolar AS, berbagai makanan olahan (43,26 juta dolar AS), mesin-mesin/pesawat mekanik (42,61 juta dolar AS), timah (39,12 juta dolar AS), mesin/peralatan listik (37,96 juta dolar AS), tembaga (35,12 juta dolar AS), karet dan barang dari karet (34,74 juta dolar AS), kertas/karbon senilai 33,71 juta dolar AS).

Sebanyak 12 negara tujuan ekspor nonmigas Banten Februari adalah Filipina senilai 54,98 juta dolar AS, Thailand (43,97 juta dolar AS), Myanmar (42,38 juta dolar AS), Jerman (21,65 juta dolar AS), Belgia (20,13 juta dolar AS), Belanda (12,54 juta dolar AS), Amerika Serikat (142,12 juta dolar AS), Tiongkok (116,13 juta dolar AS), Jepang (76,83 juta dolar AS), India (34,49 juta dolar AS), Korea Selatan (28,27 juta dolar AS) dan Australia senilai 20,20 juta dolar AS). (rid)


Media Zone menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redaksizone@gmail.com, dan redaksi@zone.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

LEBAK

Buka Akses Transportasi, Kodim Lebak Laksanakan Pra – TMMD Bangun Jalan

Published

on

Proses pembangunan jalan oleh prajurit TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD).

Bantenraya.id, Lebak – Komando Distrik Militer (Kodim) 0603 Lebak melaksanakan Pra-TNI Manunggal Masuk Desa (TMMD) dengan membangun jalan pedesaan di pedalaman Kecamatan Cileles, Kabupaten Lebak, Banten untuk membuka akses lalu lintas di daerah itu.

“Pembangunan jalan itu sepanjang 7 Km menghubungkan antardesa Cipedang dan Pasindangan,” kata Komandan Kodim (Dandim) 0603 Lebak Letkol (Kav) Yuda Setiawan di Lebak, Senin (19/8/2019).

Pra-TMMD tersebut, ujar dia, kini sudah sampai di badan jalan pedesaan. Sebelumnya, realisasi pembangunan jalan pedesaan itu harus menembus hutan belukar dan perbukitan.

“Kami optimistis pembangunan jalan yang menghubungkan antardesa Cipedang-Pasindangan berdampak langsung pada kehidupan masyarakat menjadi lebih baik. Pembangunan jalan desa ini juga untuk mempersiapkan SDM unggul untuk kemajuan Indonesia sesuai tema HUT Kemerdekaan RI ke-74,” katanya menegaskan.

Mereka para anggota TNI semangat, tak kenal lelah dan bekerja keras membangun jalan desa untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat setempat, kata dia.

Ia mengatakan, pelaksanaan TMDD dijadwalkan Oktober 2019 sesuai progres pembangunan jalan tersebut.

“Kami menilai pembangunan jalan desa manfaatnya luar biasa bagi kesejahteraan masyarakat, karena akses lalu lintas masyarakat bisa dilakukan selama 24 jam,” ujarnya

Sehingga, lanjut dia, pembangunan ini dapat menopang pertumbuhan ekonomi masyarakat. Apalagi, sebagian besar masyarakat setempat berprofesi sebagai petani yang harus memasarkan komoditas pertaniannya ke luar daerah.

Selain itu, ia menjelaskan. pembangunan jalan desa dapat meningkatkan derajat kesehatan masyarakat, karena mereka akan lebih mudah mendapatkan akses pelayanan kesehatan dari Puskesmas maupun RSUD Adjidarmo Rangkasbitung.

Anak-anak mereka pun, kata dia, bisa mendapat akses ke sekolah dengan lancar.

Apabila, jalan tersebut sudah dilakukan pengerasan, pengaspalan atau betonisasi serta bisa dilintasi berbagai angkutan warga, maka pihaknya akan menyerahkannya ke pemerintah desa setempat.

Sementara itu, masyarakat Desa Pasindangan Kecamatan Cileles Kabupaten Lebak mengaku merasa lega setelah dilakukan pembangunan jalan antardesa dalam program TMMD itu.

“Kami yakin dengan terbukanya jalan desa itu dipastikan biaya angkutan murah dan kegiatan ekonomi masyarakat pun meningkat, sehingga dapat mengatasi kemiskinan dan pengangguran,” kata Sobri, seorang warga Desa Pasindangan Kecamatan Cileles, Kabupaten Lebak. (mrs)


Media Zone menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redaksizone@gmail.com, dan redaksi@zone.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Continue Reading

LEBAK

Program Swasembada Pangan di Lebak didukung Kodim 0603

Published

on

Kodim Lebak berkomitmen untuk mendukung program swasembada pangan sesuai nota kesepahaman yang ditandatangani TNI dan Kementerian Pertanian.

Bantenraya.id, Lebak – Komando Distrik Militer (Kodim) 0603 Lebak berkomitmen untuk mendukung program swasembada pangan sesuai nota kesepahaman yang ditandatangani TNI dan Kementerian Pertanian.

“Kita bekerja sama dengan Dinas Pertanian dan Perkebunan (Distanbun) setempat untuk meningkatkan produksi dan produktivitas pangan,” kata Dandim 0603 Lebak Letkol (Kav) Yuda Setiawan di Lebak, Minggu (18/8/2019).

Kodim 0603 Lebak mengapresiasi produksi pangan di daerah itu tahun ke tahun surplus dan memberikan kontribusi terhadap pangan nasional dengan memasok ke luar daerah, seperti Tangerang, DKI Jakarta dan Bogor.

Untuk mendukung program swasembada pangan, kata dia, TNI sebagai tenaga pendamping petani bertugas memberikan penyuluhan dan menunjang perbaikan sarana pertanian.

Bahkan, TNI juga membantu pembangunan percetakan sawah baru di Kecamatan Cirinten.

“Kami tak kenal lelah dan bekerja keras sebagai komitmen untuk mendukung program swasembada pangan, karena merupakan program pemerintah, ” tegasnya.

Ia mengatakan, TNI bersama Distanbun dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat membuka “Posko Mitigasi Kekeringan”.

Dimana posko itu dipusatkan pada Distanbun untuk menangani areal persawahan petani yang mengalami kekeringan akibat kemarau itu.

Apabila, petani itu melaporkan kekeringan,namun terdapat sumber potensi air permukaan, maka TNI, petugas Distanbun dan BPBD ke lapangan untuk membantu penyaluran pompa air.

Pompa air itu, kata dia, nantinya dilakukan penyedotan air permukaan untuk menyelamatkan tanaman padi agar tidak gagal panen.

Selama ini, kata dia, kekeringan belum mengkhawatirkan gagal panen karena terbantu adanya peyaluran bantuan pompa air tersebut.

“Kami menerima laporan dari Distanbun musim kemarau itu tidak mengakibatkan gagal panen,” ujarnya menjelaskan.

Sementara itu, Kepala Distanbun Kabupaten Lebak Dede Supriatna mengatakan pihaknya menjamin kekeringan yang menimpa tanaman padi di daerah ini belum berdampak terhadap produksi pangan setelah dilakukan pompanisasi guna menyelamatkan tanaman padi agar tidak terjadi gagal panen.

Berdasarkan data di Posko Mitigasi Kekeringan Distanbun Kabupaten Lebak tercatat seluas 2.760 hektare sawah mengalami kekeringan dan terdiri dari seluas 1.984 hektare kategori ringan, seluas 441 hektare sedang dan seluas 335 hektare berat. Sedangkan, angka tanam seluas 35.913 hektare.

“Kami bekerja sama dengan TNI untuk membantu pemasangan pompa air agar kekeringan yang terjadi saat ini tidak berpengaruh terhadap program ketahanan pangan,” ujar Dede.

Ia menjelaskan kekeringan yang melanda areal persawahan di daerah ini hingga sekarang belum menjadikan ancaman produksi pangan.

Persediaan produksi beras Januari-Juni 2019 di Kabupaten Lebak melimpah karena produksi panen padi sebanyak 358.961 Gabah Kering Pungut (GKP) dan 305.117 Gabah Kering Giling (GKG).

Produksi padi tersebut jika dijadikan dalam bentuk beras sebanyak 167.814 ton dan kebutuhan konsumsi masyarakat Kabupaten Lebak 11.977 ton/bulan dan 143.724 ton/tahun dengan penduduk 1,2 juta jiwa.

Dari 167.814 ton setara beras itu kebutuhan beras hingga Juni 2019 sebanyak 71.862 ton maka dipastikan surplus 95.953 ton dan mencukupi untuk kebutuhan selama delapan bulan ke depan.

“Kami yakin pasokan beras masih didatangkan dari petani lokal dan harga beras juga stabil,” katanya. (mys)


Media Zone menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redaksizone@gmail.com, dan redaksi@zone.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Continue Reading

LEBAK

Enam Kecamatan di Lebak Krisis Air Bersih

Published

on

Sebanyak enam kecamatan di Kabupaten Lebak, Provinsi Banten, sejak satu bulan terakhir krisis air bersih akibat kemarau panjang.

Bantenraya.id, Lebak – Sebanyak enam kecamatan di Kabupaten Lebak, Provinsi Banten, sejak satu bulan terakhir krisis air bersih akibat kemarau panjang yang melanda daerah itu.

“Krisis bersih itu karena air bawah tanah, seperti sumur timba, sumur bor, jetpump listrik dan sumber mata air mengering,” kata Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lebak Kaprawi di Lebak, Rabu (14/8/2019).

Masyarakat yang terdampak krisis air bersih di enam kecamatan antara lain Kecamatan Sajira, Maja, Leuwidamar, Bojongmanik, Wanassalam dan Warunggunung.

Mereka warga yang krisis air bersih tersebar di 15 desa dari enam kecamatan tersebut.

Saat ini, masyarakat di sana untuk memenuhi kebutuhan mandi, cuci dan kakus (MCK) terpaksa berjalan kaki menuju lokasi daerah aliran sungai maupun kolam.

Selain itu juga masyarakat membuat lubang-lubang di tepi sungai untuk menampung air.

Bahkan, di antaranya warga sejak dinihari mendatangi sumber mata air yang ada di perbukitan dengan mengantre.

“Krisis air bersih dipastikan meluas karena hingga kini belum ada tanda-tanda curah hujan,” katanya menjelaskan.

Menurut dia, BPBD hingga kini belum menetapkan status tanggap darurat kekeringan, meski dialami krisis air bersih di enam kecamatan.

Namun tidak tertutup kemungkinan satu pekan ke depan tidak ada hujan, dipastikan ditetapkan status tanggap darurat kekeringan.

“Kami terus mengoptimalkan pendistribusian pasokan air bersih ke desa-desa yang dilanda kesulitan air bersih akibat kekeringan itu,” ujarnya.

Sejumlah warga Desa Lebak Pariang, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, mengaku bahwa mereka merasa lega setelah mendapat bantuan air bersih sebanyak dua tangki dari BPBD setempat.

Pasokan air bersih itu dipastikan mencukupi untuk kebutuhan tiga hari ke depan.

“Kami berterima kasih kepada BPBD setempat, karena setiap pekan dipasok air bersih,” kata Adnan, warga setempat. (ant)


Media Zone menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redaksizone@gmail.com, dan redaksi@zone.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Continue Reading

Trending