Connect with us

LEBAK

Pemkab Lebak Diminta Bangun Pasar Sentra Kerajinan

Published

on

Kepala Desa Lebak Pariang Kecamatan Leuwidamar Kabupaten Lebak Aat Suangsih.

Bantenraya.id, Lebak – Pemerintah Kabupaten Lebak, Provinsi Banten diminta membangun pasar sentra kerajinan berlokasi di Kecamatan Leuwidamar, guna meningkatkan pendapatan pelaku ekonomi kreatif masyarakat setempat.

“Kita yakin produksi ekonomi kreatif masyarakat yang tersebar di 12 desa bisa ditampung di pasar sentra kerajinan itu,” kata Kepala Desa Lebak Pariang Kecamatan Leuwidamar Kabupaten Lebak Aat Suangsih di Lebak, Senin (9/9/2019).

Para pelaku ekonomi kreatif di Kecamatan Leuwidamar kesulitan untuk pemasaran, karena tidak adanya lokasi penampung untuk memasarkan produk tersebut.

Padahal, tambahnya, Kecamatan Leuwidamar terdapat destinasi wisata budaya Badui yang mendunia.

Pelaku ekonomi kreatif memproduksi aneka kerajinan tenun Badui, batik, sapu lidi, gitar dan limbah sampah dan souvenir. Selain itu juga kerajinan aneka makanan terbuat dari bahan baku pertanian pisang, umbi-umbian dan lainya.

Bahkan, menurut Aat, Kecamatan Leuwidamar cukup terkenal durian berkualitas, seperti durian matahari dan durian Badui.

Selama ini, pelaku usaha terpaksa menjual produknya di tingkat lokal dengan berkeliling akibat tidak adanya penampungan tersebut.

Saat ini, kata dia, perguliran ekonomi kreatif masyarakat bisa mencapai puluhan juta per bulan.

“Kami berharap pasar Leuwidamar itu dibangun untuk dijadikan penampungan kerajinan ekonomi kreatif masyarakat,” katanya.

Menurut dia, saat ini, kondisi Pasar Leuwidamar memprihatinkan karena bangunannya rusak dan nyaris roboh sehingga ditinggalkan pedagang lama.

Karena itu, pihaknya mendesak Bupati Lebak dapat membangun pasar tersebut guna meningkatkan pendapatan ekonomi masyarakat.

Apalagi, kebijakan Pemkab Lebak mengembangkan sektor pariwisata untuk mendongkrak pertumbuhan ekonomi masyarakat.

Kehadiran pasar itu, kata dia, nantinya para wisatawan yang berkunjung ke kawasan Badui bisa mampir ke pasar untuk membeli produk kerajinan ekonomi masyarakat.

“Kami yakin wisatawan akan memadati pasar Leuwidamar untuk membeli produk kerajinan masyarakat untuk dijadikan kenang-kenangan,” katanya.

Senada dengan itu Ujang, pelaku ekonomi kreatif mengatakan dirinya sangat mendukung pasar Leuwidamar dibangun untuk menampung sentra kerajinan masyarakat.

Dirinya saat ini merasa kesulitan untuk memasarkan produk kerajinan gitar akibat tidak adanya lokasi penampungan itu.

“Kami optimistis pasar Leuwidamar bisa dijadikan denyut ekonomi warga jika dibangun untuk menampung produk kerajinan, sehingga wisatawan bisa membelinya dengan jumlah banyak,” katanya. (mrs)


Media Zone menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redaksizone@gmail.com, dan redaksi@zone.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

LEBAK

Polisi Periksa Enam Pasangan Bukan Suami Istri Tertangkap di Hotel

Published

on

Kepolisian Resor Lebak masih melakukan pemeriksaan terhadap enam pasangan bukan suami istri di sejumlah hotel di Rangkasbitung.

Bantenraya.id, Lebak – Kepolisian Resor Lebak masih melakukan pemeriksaan terhadap enam pasangan bukan suami istri di sejumlah hotel di Rangkasbitung dan sekitarnya dari hasil Operasi Cipta Kondisi pada Minggu (15/9/2019) malam.

“Semua keenam pasangan itu dilakukan pemeriksaan,” kata Kasat Sabhara Polres Lebak Iptu Suharto di Lebak, Senin (16/9/2019).

Keenam pasangan suami istri tanpa pernikahan itu inisial pasangan Dd dan KJS, Shd dan BH, Rl dan Sb, Jpr dan Da, MS dan Nr, Sp dan NF.

Mereka pasangan itu tengah berada di Hotel Karisma sebanyak lima pasangan dan Hotel Wijaya satu pasangan.

Sebagian besar mereka usia muda dan terdapat dari luar daerah Kabupaten Lebak.

“Semua enam pasangan itu menjalani pemeriksaan dan bisa pulang setelah ada keluarganya,” katanya.

Menurut dia, pihaknya juga mengamankan sebanyak 64 botol minuman keras dari sejumlah pedagang.

Selama ini, perdagangan minuman keras masih banyak ditemukan,sehingga terus dioptimalkan operasi itu.

Dalam operasi itu petugas menyisir ke pedagang minuman keras juga dilanjutkan ke hotel.

“Kami berharap melalui operasi itu kondisi lingkungan masyarakat aman,” katanya. (mrs)


Media Zone menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redaksizone@gmail.com, dan redaksi@zone.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Continue Reading

LEBAK

Lebak Optimis Jadi Sentra Kopi Nasional

Published

on

Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Lebak Dede Supriatna.

Bantenraya.id, Lebak – Kabupaten Lebak, Banten optimistis dua tahun ke depan menjadi sentra kopi nasional melalui pengembangan budi daya perkebunan rakyat dan penyaluran bantuan benih, juga kerja sama dengan pemangku kepentingan yang terkait guna meningkatkan produktivitas kopi.

“Kami bersama pemangku kepentingan dari Pemprov Banten, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan serta penggiat komunitas kopi mengembangkan perkebunan kopi,” kata Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Lebak Dede Supriatna di Lebak, Senin (16/9/2019).

Pemerintah Kabupaten Lebak pada 2019 mengembangkan perkebunan kopi arabika seluas 30 hektare di Kecamatan Muncang dan Sobang.

Selama ini, permintaan kopi arabika di pasaran cenderung meningkat dengan harga relatif baik dan menguntungkan petani.

Saat ini, harga kopi arabika menembus Rp18.000 sampai Rp20.000/Kg bentuk berasan atau biji kopi.

“Kami yakin pengembangan kopi dapat mendongkrak pendapatan ekonomi petani dan mampu memutus mata rantai kemiskinan,” katanya.

Ia mengatakan, pihaknya bersama Pemprov Banten dan Kementerian Liingkungan Hidup dan Kehutanan menjalin kerja sama untuk pengembangan kopi.

Pengembangan kopi tersebut di lahan-lahan perkebunan milik BUMN yang bisa ditanami kopi. Bahkan, Pemprov Banten mengembangkan kopi hingga ratusan hektare di Kabupaten Lebak.

“Kami memasitikan tiga tahun ke depan Lebak menjadi sentra kopi nasional,” katanya.

Iskandar, seorang penggiat kopi warga Kabupaten Lebak mengatakan Lebak pada zaman kolonial Belanda sebagai penghasil kopi,lada dan karet terbesar di Provinsi Banten.

Bahkan, kualitas kopi Lebak masuk kategori terbaik dibandingkan dari Bali, Sumatera, Sulawesi dan Papua.

Pihaknya sebagai pelaku usaha kecil mendapatkan pasokan kopi dari petani Kecamatan Muncang dan Sobang.

Akibat kesulitan bahan baku itu, kata dia, memproduksi usaha kopi kemasan tidak dilakukan setiap hari.

“Kami memproduksi kopi tergantung adanya bahan baku itu,” katanya.

Sementara itu, Jaro Wahid petani Kecamatan Muncang mengatakan Pemerintah Provinsi Banten mendorong pengembangan perekebunan kopi dengan membantu berupa benih.

Potensi pengembangan perkebunan kopi cukup berpeluang menjadi sentra penghasil kopi, termasuk di antaranya di Desa Jagaraksa Kecamatan Muncang.

Saat ini, petani yang mengelola pengembangan perkebunan kopi dikelola oleh lima kelompok.

Bahkan, petani sudah tanam benih kopi bantuan Pemprov Banten sekitar 12.300 batang dan di antaranya juga sudah panen. Para petani menjual kopi itu melalui jaringan internet atau secara “online” ke Bogor, Jawa Barat. (mrs)


Media Zone menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redaksizone@gmail.com, dan redaksi@zone.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Continue Reading

LEBAK

Polres Lebak Gelar Rekontruksi Pembunuhan Gadis Badui

Published

on

Kepolisian Resort (Polres) Lebak menggelar rekonstruksi pembunuhan dan pemerkosaan gadis Badui yang dilakukan tiga pelaku berinisial AR (15), AMS (19) dan MF (18).

Bantenraya.id, Lebak – Kepolisian Resort (Polres) Lebak menggelar rekonstruksi pembunuhan dan pemerkosaan gadis Badui yang dilakukan tiga pelaku berinisial AR (15), AMS (19) dan MF (18).

“Kami menggelar rekonstruksi itu di Mapolres untuk menjaga kondusivitas,” kata Wakil Kepala Kepolisian Resor (Wakapolres) Lebak Kompol Wendy Andrianto saat dihubungi di Lebak, Senin (16/9/2019).

Pelaksanaan rekonstruksi pembunuhan dan pemerkosaan berjalan lancar dengan memperagakan sebanyak 23 adegan sesuai keterangan pelaku.

Ketiga pelaku itu di antaranya eksekutor AMS sebagai pelaku kedua memperagakan adegan ke 11 dan 13 dengan melakukan pembunuhan terhadap gadis Badui yang tinggal di saung sendirian di Desa Cisimeut, Kecamatan Leuwidamar.

Gadis Badui itu dilukai sekujur tubuh oleh pelaku dengan senjata golok milik orangtua korban.

Selain itu, tersangka AR sebagai pelaku pertama memperagakan adegan ke-17 dan 20 juga MF sebagai pelaku ketiga.

Pelaku pertama yang mengajak dua temanya untuk melakukan tindakan kejahatan.

Selanjutnya, setelah korban sudah meninggal dunia terjadi pemerkosaan.

“Kami menggelar rekonstruksi pembunuhan dan pemerkosaan itu untuk melengkapi penyelidikan juga memenuhi persyaratan P-21,” katanya menjelaskan. (mrs)


Media Zone menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redaksizone@gmail.com, dan redaksi@zone.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Continue Reading

Trending