Connect with us

TOKOH

REPUTASI SUKMAWATI SOEKARNOPUTRI DAN IMAGE RESTORATION THEORY

Published

on

Diah Mutiara Sukmawati, adalah putri dari presiden pertama Republik Indonesia, Ir. Soekarno.

Oleh : Budi Purnomo Karjodihardjo

BERANGKAT dari relung hati masuk ke dalam pikiran, kemudian diimplementasikan dalam perbuatan dan diucapkan dengan kata-kata yang didengarkan banyak orang. Itulah yang dinamakan komunikasi.

Komunikasi dari internal yang kita lakukan sendiri, bisa memberikan output yang benar, tapi bisa juga salah. Itulah yang disebut kesalahan komunikasi dari internal diri sendiri.

Meskipun salah, sepanjang konten yang dikomunikasikan tidak mengandung unsur yang sensitif dan tidak menyinggung perasaan pihak lain, tentu tidak masalah.

Kesalahan yang datangnya dari eksternal pun sulit . Jadi, apapun konten yang dikomunikasikan (entah itu benar atau merasa benar, apalagi salah) pasti akan dipersoalkan oleh pihak eksternal.

Komunikatornya pun bisa beragam, umumnya datang dari opinion leader dari pihak ketiga pihak yang kontra. Biasanya ini terkait dengan persoalan masalah persaingan, baik itu persaingan usaha, kontestasi politik, maupun persoalan hukum, dan urusan umat yang sensitif.

PIDATO SUKMAWATI

Adalah pidato Sukmawati Soekarnoputri dalam kegiatan yang bertema ‘Bangkitkan Nasionalisme Bersama Kita Tangkal Radikalisme dan Berantas Terorisme’ pada Senin (11/11/2019) yang membuat kontroversi dan berbuah laporan polisi.

Awalnya Sukmawati berbicara tentang perjuangan Indonesia merebut kemerdekaan RI dari jajahan Belanda. Kegiatan itu sendiri dalam rangka memperingati Hari Pahlawan 10 November 2019. Sukmawati kemudian melontarkan pertanyaan kepada forum.

“Sekarang saya mau tanya semua, yang berjuang di abad 20 itu Yang Mulia Nabi Muhammad apa Ir Sukarno, untuk kemerdekaan? Saya minta jawaban, silakan siapa yang mau jawab berdiri, jawab pertanyaan Ibu ini,” tanya Sukmawati seperti dalam video yang viral.

Rupanya, ucapan Sukmawati itu dinilai sebuah penistaan terhadap agama. PihakKoordinator Bela Islam (Korlabi) meminta polisi segera mengusut laporan tersebut karena dituding membandingkan Nabi Muhammad SAW dengan Sukarno.

Laporan kepada polisi sangat serius, karena sudah dilaporkan resmi dan tertuang dalam nomor LP/7363/XI/2019/PMJ/Dit.Reskrimum, tanggal 15 November 2019.

Tentu saja pidato Sukmawati itu kini menuai badai. Sejumlah tokoh nasional sudah meminta Sukmawati untuk mempertanggungjawabkan ucapannya. Apalagi tokoh-tokoh islam lengkap dengan atribut organisasi masanya juga mempersoalkan ucapan Sukmawati.

Saya tidak perlu nembahas kontroversi ini dari sisi berita karena diperkirakan masalah ini akan bergulir panjang ke depan, mengingat isu sensitif yang dilontarkan Sukmawati ini bukan yang pertama kali.

Menarik bagi saya adalah untuk memotret peristiwa ini dari kacamata komunikasi secara makro. Bagus juga menyimak dari sisi strategi public relations, manajemen reputasi, dan upaya-upaya pemulihan citra seperti apa yang dilakukan Sukmawati (dan timnya) ke depannya.

IMAGE RESTORATON THEORY

Prof. William Benoit yang membuat Image Restoration Theory atau teori pemulihan citra menyebutkan bahwa semua orang memiliki keinginan untuk namanya selalu baik, reputasinya harum, dan citranya bagus. Meskipun orang itu melakukan kesalahan yang membuatnya buruk citra.

Itulah sebabnya Benoit menganalisa berbagai cara dan kebiasaan personal atau korporasi dalam menghadapi krisis komunikasi, memburuknya reputasi, dan kerusakan citra dalam teori pemulihan citra.

Dalam pandangan saya, disadari atau tidak sebenarnya Sukmawati (dan timnya) juga sudah melakukan sebagian upaya reputation recovery sesuai prinsip-prinsip image restoration theory (yang memiliki 5 prinsip strategi, dengan beragam implementasi).

Misalnya, Strategi Denial. Strategi seperti ini seringkali kita lihat dan baca di berbagai kasus komunikasi, yaitu melakukan penyangkalan (simple denial). Tetapi selain menyangkal, ada juga mengalihkan kesalahan terhadap orang lain (shifting the blame).

Nah, dalam hal ini Sukmawati terlihat sudah menerapkan strategi ini, terekam dari statemennya di media yang menyebut video yang tersebar di media sosial telah diedit, bukan sepenuhnya seperti yang dia sampaikan. “Saya tidak membandingkan, dan tidak ada kata jasa,” ucap Sukmawati.

Juga Strategi Evading of Responsibility. Strategi ini dilakukan dengan cara pengurangan tanggungjawab atas tindakannya, dengan demikian maka konsekuensi tindakannya (kesalahan) tersebut juga berkurang.

Salah satu strategi evading of responsibility ini diimplementasikan dengan langkah good Intention (pengakuan bahwa semuanya berawal dari niat yang baik, sama sekali tidak ada maksud untuk membuat kesalahan)

Seperti diberitakan setelah viral, Sukmawati menegaskan tidak ada maksud untuk menghina Nabi Muhammad atau membandingkannya dengan Sang Proklamator. Tujuannya bertanya soal itu, ingin mengetahui apakah generasi muda paham dengan sejarah Indonesia atau tidak.

“Ya bertanya, saya ingin tahu jawabannya seperti apa, fakta sejarahnya, pada ngerti enggak sejarah Indonesia? Terus dijawab mahasiswa itu: Sukarno,” ujar Sukma, saat dihubungi media, Jumat, 15 November 2019.

Begitulah upaya Sukmawati yang kini sedang berjuang untuk melakukan restorasi citra dengan berbagai klarifikasi yang dilakukannya maupun yang dilakukan oleh tim hore dan opinion leadernya.

Sebenarnya dalam pandangan saya ada satu lagi strategi restorasi citra yang sangat penting yang bisa direkomendasikan yang kemungkinan bisa mengatasi masalah komunikasi ini, yaitu Strategi Mortification.

Strategi Mortifikation disebut Benoit paling akhir dalam Image Restoration Theory. Strategi ini dinilai sangat elegan, karena mengakui kesalahan, dan dengan jelas meminta pengampunan atas kesalahan tindakan yang sudah dilakukan.

Bahkan srategi “penyiksaan diri” dalam teoi Benoit pernah menjadi tema utama yang menarik dari tulisan pakar komunikasi yang lainnya, yaitu Burke.

Sukmawati juga pernah menggunaan stategi ini pada (4/4/2018), ketika puisi ‘Ibu Indonesia’ ciptaannya yang telah memantik kontroversi karena ada teks yang berbunyi, “Yang kutahu suara kidung Ibu Indonesia, sangatlah elok, Lebih merdu dari alunan azan mu”

Sukmawati Soekarnoputri, ditemani Halida Nuriah Hatta, putri bungsu Mohammad Hatta atau Bung Hatta akhirnya meminta maaf atas puisi ‘Ibu Indonesia’ ciptaannya yang telah memantik kontroversi dan menyatakan sama sekali tidak berniat untuk menghina umat Islam. Dan setelah itu semua kontroversinya selesai.

Masalahnya, apakah Sukmawati juga akan mengambil ulang strategi Mortification ini untuk mengulang kisah suksesnya di masa lalu? Kita belum tahu. Apakah strategi Mortification ini juga efektif jila dilakukan lebih dari kali? Kita juga tidak tahu.

Namun secara pribadi saya berpandangan meskipun salah/tidak merasa salah, meminta maaf merupakan perbuatan yang terpuji, karena seseorang yang berani meminta maaf sejatinya telah menunjukkan keberaniannya dalam berkomitmen untuk bersegera memperbaiki diri.

Selain itu, meminta maaf juga dapat menciptakan ketenangan jiwa, meminimalisir konflik, mengurangi krisis komunikasi, melatih kesabaran, dan menjadi bukti keseriusan dalam bertaubat.

Jika memang demikian adanya, mestinya Strategi Mortifikation ini akan sangat efektif sebagai upaya stategis untuk reputation recovery, image restoration, atau pemulihkan citra. Semoga.

[Oleh: Budi Purnomo Karjodihardjo. Penulis adalah seorang mediapreneur dan praktisi komunikasi. Budi dan timnya, RESTART – Media Restoration Agency, menyediakan waktu untuk membantu personal/korporasi yang menghadapi masalah komunikasi dengan pendekatan Image Restoration Theory]

Tulisan ini sudah dimuat di media Tribunnews.com


Media Zone menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redaksizone@gmail.com, dan redaksi@zone.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

TOKOH

BELAJAR STRATEGI MEMULIHKAN CITRA DARI AGNES MO

Published

on

Agnez Mo, adalah seorang Penyanyi berkebangsaan Indonesia.

Oleh : Budi Purnomo Karjodihardjo

PERNYATAAN penyanyi Agnes Mo yang menyebutkan bahwa dirinya tidak memiliki darah Indonesia dalam wawancara Build bersama Kevan Kenney di New York City, Amerika Serikat, langsung menjadi kontroversi hingga sekarang.

Polemik dan komentar datang dari berbagai penjuru. Mulai dari sesama selebritas hingga politisi dan pihak pemerintah. Soal konten masalah ini, silahkan googling sendiri. Masih trending topic di media.

Menarik untuk disimak adalah communications action dan strategi public relations yang dilakukan oleh Agnes Mo (dan tim manajemennya) sejak saat menghadapi krisis sampai upayanya memulihkan kembali citra ke depannya.

Dalam pandangan saya, ada beberapa point penting atau pelajaran yang bisa diambil dari pengalaman Agnes Mo dalam strategi komunikasi krisis dan manajemen reputasi yang dilakukan menghadapi masalah ini. Antara lain :

Pertama, Segera Lakukan Klarifikasi

Begitu ada pemberitaan negatif dan kabar buruk, ataupun berita yang dianggap salah paham atau misleading, tanpa banyak menunggu pihak Agnes Mo secara spontan langsung bereaksi dengan cepat.

Kecepatan klarifikasi ini sangat penting, karena prinsip memadamkan api kecil jauh lebih mudah dibandingkan dengan memadamkan kebakaran besar juga berlaku di dunia komunikasi.

Dalam hal krisis, kecepatan klarifikasi bisa berarti memangkas pekerjaan lainnya sekaligus menentukan tingkat kesuksesan dalam menangani krisis.

Klarifikasi thap pertama, Agnes Mo memilih klarifikasi via intagramnya, dibandingkan penyebaran Press Release ataupun mengundang media via Press Conference.

Memang karifikasi tercepat yang bisa dilakukan adalah via medsos yang akunnya dipegang sendiri, sehingga bisa langsung klarifikasi secara real time. Agnes Mo sudah melakukannya dengan baik.

Kedua, Melakukan Duplikasi Klarifikasi

Meskipun sudah melakukan klarifikasi via medsos, Agnes Mo juga meladeni wawancara di berbagai media entertaiment baik media online maupun televisi.

Itulah yang disebut sebagai duplikasi klarifikasi. Dalam dunia online reputation nanagement, hal ini sangat penting dilakukan. Mengapa?

Semakin banyak munculnya berita pisitif yang berasal dari kita, akan menenggelamkan berita negatif dari pihak yang kontra di situs mesin pencari.

Dengan demikian memudahkan tim online reputation management untuk menyingkirkan berita negatif ke halaman belakang google.

Keuntungan lainnya dari duplikasi klarifikasi ini adalah bisa menjawab semua pertanyaan dan meluruskan kesalahpahaman publik dalam forum yang beragam.

Ketiga, Menyiapkan Juru Bicara yang Baik

Juru bicara yang baik bisa disesuaikan dengan seberapa besar tingkat krisis yang terjadi. Dalam persoalan ini, menurut saya adalah masalah kesalahpahaman dan persoalan misleading yang digoreng, sehingga relatif mudah untuk ditangani.

Sehingga tampilnya Agnes Mo sendiri atau keluarganya yang tampil sebagai juru bicara mahkota adalah pilihan yang sangat tepat. Media dan publik sangat menunggu penjelasan, klarifikasi, dan argumentasi atas pernyataan Agnes.

Keempat, Dukungan Opinion Leader

Disadari atau tidak, dukungan third parties opinion leader – pemimpin opini pihak ketiga juga datang menjadi pihak yang pro Agnes Mo. Ini juga terjadi setelah Agnes Mo gencar melakukan klarifikasi.

Dari pihak pemerintah, komentar Kepala Staf Presiden RI Jend (purn) Moeldoko berkomentar positif. Demikian juga ahli sejarah yang menjelaskan secara clear soal darah Indonesia yang tidak menyalahkan Agnes Mo.

Sejumlah selebritas papan atas, juga tidak terburu-buru menghakimj Agnes Mo. Mereka netral bahkan cenderung pro Agnes, seperti Daniel Mananta, Anji, Anggun C Sasmi, Sahrul Gunawan, Mona Ratuliu, dan masih banyak lagi.

Kelima, Perlukah Minta Maaf?

Agnes Mo mengaku tidak paham saat mendengar adanya desakan dia harus meminta maaf. Apanya yang harus minta maaf?

“Minta maaf karena saya jujur bahwa saya tidak punya garis keturunan, atau minta maaf karena saya mempromosikan Indonesia punya keberagaman?” katanya dalam wawancara bersama Deddy Corbuzier yang ditayangkan di saluran YouTube Deddy, pada Jumat (29/11/2019).

Namun demikian, dari sisi image restoration, sebenarnya minta maaf tidak harus selalu dikaitkan dengan soal benar dan salah. Katakanlah Agnes Mo itu benar dan tidak salah, kemudian minta maaf. Pasti dampaknya akan luar biasa.

Tentu saja, mekanisme dan teknis penyampaian kontennya harus dipersiapkan secara matang. Misalnya, kontennya bukan minta maaf yg ditanyakan Agnes di atas, minta maaf atas tanggapan yang disalahpahami sehingga menyita perhatian publik.

Minta maaf meskipun tidak bersalah, adalah pesan komunikasi bahwa kita memiliki itikad baik untuk mengakhiri konflik dan kontroversi agar tidak berkepanjangan.

Tentu poin ini hanya sekedar saran saya saja. Menurut Prof William Benoit penemu Image Restoration Theory, strategi Mortification (minta maaf) merupakan strategi pemulihan citra yang paling pamungkas dan paling elegan.

Penutup

Langkah-langkah komunikasi yang sudah dilakukan berjalan cukup efektif. Terlihat simpati publik sudah mulai bergeser, yang tadinya benci sekarang sudah mulai netral dan yang netral bisa berubah menjadi rindu.

Dalam sepekan ke depan atau maksimal sebulan ke depan, saya prediksikan situasi krisis yang menimpa Agnes Mo akan berakhir. Kalaupun masih bergulir, kondisinya sudah berubah jauh dan pihak Agnes Mo berada di atas angin.

Hal itu bisa terjadi jika Agnes Mo bisa menjaga situasi dan kondisinya tetap bertahan seperti ini. Namun jika ada malpraktek dalam strategi komunikasinya, kita tidak tau apa yang terjadi di depan.

Kita tidak tau apakah ada stunami komunikasi susulan yang menyerang Agnes Mo atau tidak, karena krisis biasanya datang tidak diundang, mendadak dan tidak terduga. Semoga aman-aman saja, dan tidak ada apa-apa. (*)

Budi Purnomo Karjodihardjo adalah praktisi media dan komunikasi.

(*) Tulisan ini sudah dipublikasikan di media Femme.id

Baca juga tulisan Budi Purnomo Karjodihardjo yang lainnya, terutama seputar manajemen reputasi, manajemen krisis, pencitraan, restorasi reputasi, dan pemulihan citra di official website Budipurnomo.com. Terima kasih.

Budi dan timnya, RESTART – Media Restoration Agency, menyediakan waktu untuk membantu personal/korporasi yang menghadapi masalah komunikasi dengan pendekatan Crisis Management, Image Restoration Theory, dan Online Reputation Management.


Media Zone menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redaksizone@gmail.com, dan redaksi@zone.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Continue Reading

TOKOH

UPAYA MANAJEMEN KRISIS DAN KECEPATAN UNTUK PEMULIHAN CITRA GARUDA

Published

on

Bos Garuda sudah pasti akan diganti, bukan tidak mungkin pergantian bos diikuti oleh direksi yang lainnya sehingga momentum ini bisa menjadi titik balik bagi Garuda untuk memulihkan reputasinya.

Oleh : Budi Purnomo Karjodihardjo

HINGGA saat ini belum ada klarifikasi dari Dirut/Direktur yang maskapai penerbangan PT (Persero) Garuda Indonesia kepada publik terkait barang mewah ilegal berupa moge Harley dan sepeda brompton yang dibawanya.

Padahal sejumlah tokoh kunci dari pihak pemerintah sudah berkomentar. Mulai dari Dirjen Bea Cukai, Dirjen Hubdar, Menteri Keuangan, dan Menteri BUMN.

Ada apa ini? Pasti karena situasinya sulit, mereka butuh waktu untuk menyusun argumentasi. Apalagi, media menyebutkan, barang mewah itu datang bersama dengan rombongan bos Garuda yang menumpang pesawat baru Garuda, A330-900 Neo, yang terbang dari Perancis.

Korporasi Garuda, dan bosnya sekaligus, masuk dalam perangkap situasi krisis terpadu, yang mestinya ditangani oleh Tim Manajemen Krisis yang sepatutnya dipimpin oleh bosnya langsung.

Tim Manajemen Krisis seharusnya cepat tanggap dan mengambilo keputusan segera (dalam hitungan jam), karena melibatkan beberapa kementerian sekaligus. Jadi tidak boleh salah jalan, lamban atau terlambat

Strategi Komunikasi Krisis

Situasi krisis yang tidak terduga seperti ini memang menyulitkan pihak Garuda dan tim komunikasi yang terlibat dalam manajemen krisis, karena hal ini menyangkut persoalan nasib posisi bos di BUMN tersebut.

Artinya ada 3 pilihan prioritas strategi komunikasi krisis pemulihan citra (image restoration) atau pemulihan reputasi yang harus dilakukan paling prioritas.

Pertama, apakah pemulihan citra koporasi duluan. Kedua, pemulihan citra bos Garuda duluan. Ketiga, pemulihan citra keduanya berjalan paralel, yang jelas-jelas sulit dijalankan.

Rupanya Garuda memilih pemulihan citra bosnya terlebih dahulu. Vice President Garuda, M Ikhsan Rosan menjelaskan semua barang yang dibawa di dalam pesawat telah dilaporkan kepada petugas kepabeanan, termasuk bawaan (bagasi) karyawan onboard Garuda.

Dalam ilmu komunikasi, yaitu image restoration theory, apa yang disampaikan Garuda mengunakan strategi ganda. Pertama, strategi Simple Denial yaitu melakukan penyangkalan terhadap temuan Dirjen Bea Cukai. Kedua, strategi Shifting The Blame, mengunakan korban karyawan onboard, maksudnya tentu untuk melindungi bos.

Namun strategi restorasi citra untuk menjaga kepentingan bos BUMN tidak mempan, dan tidak cukup kuat. Strategi pemulihan restorasi yang diambil Garuda bertentangan dengan temuan, data, wawancara dan fakta yang diperoleh Dirjen Bea Cukai.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati bahkan mengatakan, anak buah bos Garuda sempat pasang badan mengaku sebagai pemesan onderdil Harley Davidson ilegal. Kedok terbongkar usai kajian menyeluruh dilakukan oleh Kemenkeu.

Kurang Tanggap

Dalam pandangan saya, Tim Manajemen Krisis Garuda kurang tanggap atau malahan tidak bisa membaca sinyal-sinyal komunikasi yang diluncurkan pihak pemerintah.

Sebelumnya, Menteri BUMN Erick Thohir mengingatkan agar direksi Garuda memiliki jiwa layaknya samurai. Seorang pemimpin harus punya posisi yang jelas. Tidak bisa, mengorbankan orang lain.

“Itu juga bagian dari leadership. Kemarin saya sudah saran, sebelum dicopot lebih baik mengundurkan diri, jika sudah merasa salah,” lanjut dia” ujar Erick.

Apa yang dimaksudkan Erick sudah terang benderang dan sangat jelas. Malahan dia memberikan solusi bagi Bos Garuda untuk bisa landing dengan terhormat.

Menurut Teori Pemulihan Citra, apa yang diusulkan Erick adalah strategi Mortification. Strategi ini menjadi alternatif paling akhir yang disebut oleh Prof. William Benoit dalam teori komunkasinya.

Strategi ini dinilai sangat elegan, karena mengakui kesalahan, dan dengan jelas meminta pengampunan atas kesalahan tindakan yang sudah dilakukan, dan menerima konsekuensi atas kesalahannya.

Sayang sekali, langkah ini tidak diambil oleh Bos Garuda. Bisa jadi terlambat mengambil keputusan, dan belum sempat diumumkan kepada publik. Sampai akhirnya Menteri BUMN kemudian mengambil tegas memecat bos BUMN.

Restorasi Citra

Nasi sudah menjadi bubur. Bos Garuda sudah pasti akan diganti, bukan tidak mungkin pergantian bos diikuti oleh direksi yang lainnya sehingga momentum ini bisa menjadi titik balik bagi Garuda untuk memulihkan reputasinya.

Bos baru Garuda nanti akan memimpin Tim Manajemen Krisis yang akan menerapkan segala strategi untuk memulihkan citra, merestorasi reputasinya.

Mestinya dengan menerapkan good corporate governance (tata kelola usaha yang baik) sebagai BUMN secara ketat, dan menerapkan prinsip-prinsip keterbukaan informasi publik (full disclosure) sebagai perusahaan publik, secara tertib saja dampaknya akan positif.

Belum lagi pengawasan yang dilakukan oleh tiga kementerian, yaitu Kemenkeu, Kemenhub, dan Kemen BUMN, mestinya Garuda dan bosnya sulit untuk melakukan tindakan yang tidak terpuji.

Saran saya, lakukan kewajiban keterbukaan informasi publik secara teratur melaui event Public Expose. Undang audience dari berbagai pihak, mulai dari wartawan hingga opinion leader.

Tentu harus ada konten yang positif yang akan dishare kepada publik dalam setiap event Public Expose, silahkan saja dipikirkan oleh Tim Manajemen Krisis, Tim Komunikasi, maupun Tim Pemulihan Citra Garuda.

Yang jelas, kecepatan pengambilan keputusan untuk pemulihan citra yang tepat dan efektif sangat menentukan bagi Garuda untuk melewati krisis dengan cepat atau lambat. Kita lihat saja.

Budi Purnomo Karjodihardjo adalah praktisi media dan komunikasi.

(*) Tulisan ini sudah dipublikasikan di media Hello.id

Baca juga tulisan Budi Purnomo Karjodihardjo yang lainnya, terutama seputar manajemen reputasi, manajemen krisis, pencitraan, restorasi reputasi, dan pemulihan citra di official website Budipurnomo.com. Terima kasih.

Budi dan timnya, RESTART – Media Restoration Agency, menyediakan waktu untuk membantu personal/korporasi yang menghadapi masalah komunikasi dengan pendekatan Crisis Management, Image Restoration Theory, dan Online Reputation Management.


Media Zone menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redaksizone@gmail.com, dan redaksi@zone.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Continue Reading

TOKOH

RED ALERT DAN UPAYA RESTORASI REPUTASI BUMN

Published

on

Budi Purnomo Karjodihardjo adalah praktisi media dan komunikasi.

Oleh: Budi Purnomo Karjodihardjo

Hari-hari ke depan adalah hari-hari yang sangat menegangkan bagi sejumlah bos BUMN yang mendapat predikat red alert (sinyal merah) dari Menteri Keuangan Sri Mulyani. Altman Z-Score memberikan skor berdasarkan hasil analisis prediksi kebangkrutan, tingkat kesulitan likuiditas, dan kemampuan memenuhi kewajiban.

Predikat red alert mengindikasikan BUMN termasuk zona financial distress — media menyebut dengan istilah “rentan bangkrut”. Sedangkan, yellow alert adalah zona waspada, dan green alert merupakan zona aman.

Di hadapan anggota DPR-RI, Menkeu Terbaik di Asia Pasifik Tahun 2019 versi Majalah Keuangan Finance Asia itu juga mengumumkan puluhan BUMN dalam zona red and yellow alert.

Dari kacamata komunikasi, saya melihat pengumuman ini sebagai double crisis, ibaratnya sudah jatuh tertimpa tangga pula. Situasi yang sangat mengenaskan. Dengan adanya berita buruk dari Kemenkeu ini, maka BUMN yang bertanda merah dan kuning akan semakin terpuruk, setidaknya dalam hal reputasi.

BUMN yang semula reputasinya kinclong — meskipun kinerjanya kurang baik, kini langsung terpuruk. Yang tadinya masih berpotensi reputasinya terpuruk, kini menjadi realitas. Padahal, harusnya dipahami bahwa corporare reputation memiliki peranan penting bagi keberhasilan bisnis dan menjadi salah satu intangible asset yang dimiliki oleh organisasi atau perusahaan .

Jika demikian adanya, apa yang harus dilakukan BUMN? Segera melakukan berbagai langkah komunikasi, strategi public relations dan manajemen reputasi untuk melakukan restorasi reputasi dan pemulihan citra.

Urgensi Restorasi Reputasi
Bagi korporasi termasuk BUMN, semakin baik reputasi perusahaan di mata pasar maka semakin diminati produk/jasa perusahaan tersebut untuk digunakan. Semakin besar tingkat minat pasar terhadap produk/jasa maka semakin besar peluang perusahaan menambah sales. Dan pada akhirnya semakin besar perusahaan tersebut konsisten dalam mencetak laba.

Perusahaan dengan reputasi yang baik akan dinilai tinggi oleh pasar. Produk/jasa yang dihasilkanpun juga akan dihargai tinggi, karena reputasi memiliki harga tersendiri. Belum lagi jika korporasi tersebut sudah menjadi public company, tentu reputasi itu ibarat gelas kaca yang mesti dijaga dengan segala cara karena sangat menentukan harga saham di pasar modal.

Bukan itu saja, jika saat ini korporasi sedang mengambil upaya restrukturisasi dengan lembaga keuangan, atau sedang melakukan penjajakan bisnis dengan investor potensial, tentu corporate action bisa terganggu.

Begitulah, pentingnya reputasi bagi korporasi. Oleh karenanya, tidak ada pilihan lain, di saat reputasi terpuruk, BUMN harus segera mengambil upaya image restoration atau pemulihan citra atau restorasi reputasi.

Jika reputasi BUMN baik, tentu akan mempermudah jalan bagi korporasi untuk memperbaiki kinerja keuangan BUMN, apapun jalan restrukturisasi yang ditempuhnya. Sebaliknya, reputasi yang buruk akan menjadi batu sandungan tersendiri.

Aktivasi Media Center
Dalam pandangan saya, pasca cap buruk disematkan, mestinya BUMN segera membentuk Tim Manajemen Krisis untuk mengukur seberapa besar daya rusaknya terhadap reputasi perusahaan.

Setelah mengetahui besar kecilnya krisis yang ditimbulkan, jangan lantas berpikir tidak ada lagi gempa susulan. Ingat, krisis bisa terjadi sewaktu-waktu.

Mengapa? mungkin saja DPR ingin mengorek info lebih dalam mengenai apa yang menyebabkan BUMN di ambang kebangkrutan. Belum lagi pengamat, peneliti ataupun opinion leader yang inline dengan bisnis BUMN tersebut.

Belum lagi jurnalis dan media beranggapan bahwa bad news is good news, tentu akan mendalami masalah ini. Padahal banyak kelompok wartawan yang relevan dengan BUMN. Baik yang ngepos di Kantor Kemenkeu, Kantor Kemen BUMN ataupun Kantor Kementerian teknis lainnya.

Jika wartawan finansial (yang biasa meliput di pasar modal) mungkin lebih kebutuhan info yang menyangkut finansial. Namun, jika urusannya dengan wartawan yang biasa mangkal di Kepolisian, Kejaksaan Agung, atau Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), tentu lebih gawat jika masalahnya penyalahgunaan keuangan BUMN.

Di sinilah pentingnya Tim Manajemen Krisis untuk mengaktifasi lembaga Media Center (Tim Komunikasi, atau Tim Public Relations, atau apapun namanya). Selain bos BUMN yang diincar para pemburu berita atau media ketika krisis menerpa perusahaan, Tim Media Center menjadi salah satu nara sumber incaran mereka berikutnya.

Peran Tim Media Center lah yang menjadi penentu sukses-tidaknya perusahaan bisa melewati krisis dengan cepat atau lambat. Atau malah menambah beban masalah krisis, jika tidak melakukan langkah pemulihan reputasi dengan tepat.

Tim Media Center berperan strategis dalam menyiapkan spoke person yang tepat, antara lain menyiapkan bos BUMN untuk dapat menghadapi sekaligus menjawab pertanyaan media maupun publik, secara efektif.

Tim Media Center pula yang harus merumuskan proses perencanaan program komunikasi untuk penanganan krisis. Termasuk, mengatur lalu-lintas sekaligus memantau jalannya perkembangan krisis sampai berhasil dilalui.

Perlu Dukungan Pemerintah
Saat ini banyak juga bos BUMN yang sedang menunggu panggilan Menteri BUMN Erick Thohir yang sudah terang-terangan menyatakan akan melakukan pergantian bos BUMN hingga akhir tahun 2019 ini.

Bagaimana nasib bos BUMN yang mendapat predikat red alert dan yellow alert? Tentu seperti telor di ujung tanduk. Lalu bagaimana kiprah dan perjuangannya untuk mendongkrak kinerja BUMN? Mudah-mudahan saja mereka masih tetap semangat.

Dari sisi pergantian bos BUMN, pemerintah kelihatannya perlu segera mengeksesusinya segera agar tidak menimbulkan spekulatif tapi memberikan kepastian sehingga bisa memantapkan langkah BUMN ke depannya. Dengan demikian, momentum pergantian bos BUMN dan juga suntikan finansial dalam bentuk penanaman modal pemerintah bisa menjadi dorongan besar untuk start memulai pemulihhan citra atau restorasi reputasi BUMN.

Sesungguhnya dukungan pemerintah dalam memberikan iklim yang kondusif bagi BUMN tidak bisa diabaikan. Pernyataan (statement) yang bijak kepada publik sangat penting untuk memberikan sentimen positif kepada pasar.Memberikan predikat negatif atau statement buruk kepada BUMN bukan hanya menyulitkan BUMN itu sendiri, tetapi bisa juga menyulitkan pemerintah sebagai pemegang saham.

Jika BUMN tersebut sudah menjadi perusahaan publik, tentu pasar bisa langsung bereaksi negatif (harga saham bisa jatuh) terhadap sentimen yang tidak kondusif. Jika belum, bisa jadi akan menyulitkan langkah restrukturisasi ke depan.

Menjaga reputasi BUMN tetap baik dan memulihkannya citranya jika terpuruk adalah tanggungjawab semua pihak terutama bos (manajemen) BUMN dan pemegang saham (pemerintah), dan juga stakeholder.

Diperlukan simbiosis, sinergitas, kebersanaan, dan saling dukung serta bersatu padu untuk memulihkan reputasi. Jika reputasinya pulih, mudah-mudahan bisa diikuti memuluskan upaya penyehatan kinerja BUMN.

Yang jelas, jika sudah sehat manajemennya, kemudian menerapkan prinsip-prinsip good corporate governance, sekaligus menjalankan keterbukaan informasi publik secara konsisten, maka bisa dipastikan reputasi BUMN akan baik. Semoga.

Budi Purnomo Karjodihardjo adalah praktisi media dan komunikasi.

(*) Tulisan ini sudah dipublikasikan di media Investor.id

Baca juga tulisan Budi Purnomo Karjodihardjo yang lainnya, terutama seputar manajemen reputasi, manajemen krisis, pencitraan, restorasi reputasi, dan pemulihan citra di official website Budipurnomo.com. Terima kasih.

Budi dan timnya, RESTART – Media Restoration Agency, menyediakan waktu untuk membantu personal/korporasi yang menghadapi masalah komunikasi dengan pendekatan Crisis Management, Image Restoration Theory, dan Online Reputation Management.


Media Zone menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redaksizone@gmail.com, dan redaksi@zone.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Continue Reading

Trending